yaAllah..
semoga di publish cerpen saya..
amin..
Seorang Pena
by:
phy_pelukismimpi (xb)
[..]
“Pena..!! siapa kau..??”
jerit ku seraya mendangak keatas langit. Langit yang dipenuhi dengan
gumpalan hitam awan mendung. Hanya sedikit sinar kecil dibalik awan biru., ya..
matahari itu malu dengan ku. “heii..!! tunjukkan dirimu..!!!jangan hanya
mengangguku..!!” jerit ku lagi. Ingin rasanya aku marah sekali dengan peristiwa
tadi, kemarin, kemarin lusa, dan pekan lalu. Dia benar-benar membuat rona
wajahku memerah.
Aku kembali menunduk. Melihat diriku yang lemah ini, yang memang seharusnya di injak-injak
oleh semua orang. Lalu, tak terasa air mata ku mengalir begitu saja. “aku bukan
cengeng..” desah ku dalam hati. Mataku benar-benar ramah sekali.. membukakan
pintu keluar untuk air-air kesedihan. Tapi.. argkhh….!!! Aku bosan menjadi
diriku..!!!
Ragaku masih duduk lemas di
atas rumput hijau berembun. Rok abu-abuku penuh dengan lumpur-lumpur liar. Aku
masih menangis. Terus dan terus. Sampai mata ku merah dan kantong mataku bengkak.
Dan kuputuskan untuk kembali menelusuri jalan yang sangat ramai itu.
Melangkahkan kaki menuju rumah tempatku berteduh dari segalanya.
***
Merenung di meja belajarku saat malam hari, adalah hal wajar
ketika aku sedang mengalami masalah. Lalu kutumpahkan segala curahan hatiku kepada
diary biru. “pena.. pena,, dan.. pena..” fikirku dalam hati. Diam sejenak. Ia
seperti benda yang saat ini aku pegang. Pena.. ya..!! itu bolfoint..
Jikaseorang Pena telah membuat ku kesal, apa yang telah ia lakukan pada ku. Aku akan membalas semua
itu. Tapi, aku harus mempunyai rencana matang. Arkkhhh… pasti hasilnya gagal.
Andai, aku mempunyai seorang sahabat. Ya.. walaupun hanya satu
seorang sahabat, aku akan menceritakan ini semua. “aku butuh sahabat..”
batinku. Tapi siapa yang mau bersahabat dengan ku.? Mungkin, tak ada yang
pernah memperhatikan ku lagi, setelah
sahabat lawas ku pergi dari dunia ini. Satu-satunya yang memperhatikan
ku selain dia adalah… “apa..??!!! apa Pena kah?? Tidak.. tidak mungkin..”
jeritku seperti orang stress ringan.
“Pena adalah satu-satunya teman baru yang suka bergaul dengan ku…
tapi aku tak pernah merespon semua itu kepadanya..dan aku merasa dia telah
menggangguku.. tapi bukankah dia murid baru, yang hanya ingin duduk disebelahku,
dan memberikan senyum manisnya setiap hari… seperti sahabatku dulu…? o Allah.. aku
merasa bersalah padanya.. maafkan aku…” kataku lirih.
Tak terasa, diary biruku basah akibat tangisan lirihku.
“betapa buruknya diriku.. hingga semua orang menjailiku..
mencibirku.. meng-asingkan diriku..dan aku baru menyadari, bahwa tak ada lagi
yang bisa mewadahi curhatku..” kataku lagi.
Malam ini semakin larut, begitu juga dengan air mata ku semakin
beku. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak dari hal ini, sampai pagi
menyapaku.
Aku bimbang apa yang harus aku lakukan padanya. Semoga mimpi ini
memberiku jawaban. Aku terlelap dalam
sunyinya malam.
***
Di dalam kelas.
Aku meng-aktrasikan bullpen mungilku. Aku masih binggung apa yang
harus aku omong pada hari ini selain diam. Hhh… suasana kelas ramai seperti
sarang lebah yang aku lempar pada saat sepulang sekolah. Tiba-tiba, aku
berfikir mengapa Pena belum datang, padahal jarum panjang telah lurus keatas.
“ada apa dengan Pena. Aku takut sesuatu akan terjadi padanya.”
fikirku dalam hati. Aku gelisah. Jarang aku mengkhawatirkan Pena.
Dan.. seseorang guru galak masuk keruang kelas ku, lalu semua
siswanya terdiam. Dan aku berhenti mengaktrasikan bullpenku.
Wajah sangarnya tak dipungkiri lagi. Dia adalah satu-satunya guru
paling garang disekolah ini. Aku mengeluarkan pe-er yang lusa lalu telah ku
kerjakan.
Tiba-tiba, “dikdokdikdok..” seperti sepatu tak bertali menelusuri
koridor dan menuju kekelas ini. Apa itu suara sepatu Pena.?
“tok-tok-tok” pintu musam itu bersuara memecahkan keheningan kelas
saat “guru sangar” itu mengajar.
“masuk.” Kata beliau.
Benar dugaanku.. itu adalah
Pena. Ia berjalan menunduk sampai ia menemukan flatshoes ber-high
tinggi. Lalu ia berhenti.
“jam berapa ini?”tanya beliau.
“..” Pena tak menjawab.
Spontan aku berdiri dan berkata “Maaf bu..” seisi kelas
memperhatikan ku. Termasuk mata tajam sang guru. Lalu aku melanjutkan
kata-kataku. “dari pada waktu terbuang sia-sia, saya akan mempertanggung
jawabkan ini. Karena ini… adalah kesalahan ku…”
Beliau mengangguk, memberi isyarat agar jam istirahat aku pergi ke
ruang bimbingan konseling, dan mempersilahkan Pena duduk. Pena berjalan lemas
ke bangkunya. Lalu ia duduk disebelahku.
Ia membenahi kacamata ovalnya. Dan menatapku dengan penuh
terimakasih. Ada rona kekhawatiran dan kebahagiaan diwajahnya kepadaku.
“Assalamu’alaikum.. terimakasih tink.. aku tak tau harus
bagaimana.. tapi.. ah sudahlah.. terimakasih..” ujarnya padaku.
“Wa’alaikumussalam. H’em.” Jawabku singkat.
Ruangan kelas kembali sunyi. Sesunyi aku dan pena. Mulut kita
serasa ter-solatip
***
Jam istirahat.
Aku menelusuri koridor sunyi dan sepi, menuju ke ruang BK. Setelah
aku mampir kekantin. Aku tak rela menahan laparnya perutku. Hehe..
“huhh..!! mengapa aku harus mengatakan itu tadi.. aku bukan
siapa-siapa nya dia..” gumanku sambil melangkahkan kedua kakiku secara
bergantian.
Tepat aku berada didepan pintu ruang bimbingan dan konseling itu,
sekilas aku mendengar percakapan kecil antara guru BK dan seorang siswi. Terpaksalah
aku antri dan menyelendenkan punggungku disamping pintu ruang BK.
Setelah sekian lama aku mengantri, siswi yang ada didalam pun
keluar. Tanpa sadar, ia melihatku berjalan dengan kepala menunduk. Aku tak tau
siapa itu. Aku masuk dan belum sampai aku duduk, guru BK itu bertanya kepadaku.
“mau apa anda kesini? Pena sudah menjelaskan masalahnya pada saya
dan anda juga” ujarnya dengan sindiran.
“be-tul yang ibu kata.? Pena sudah duluan kesini.?lalu apa yang
diceritakan Pena tentang saya? Apa saya salah padanya.?” tanyaku terbata-bata.
“ya. Ia tadi terlambat sekolah bukan..? duduk dulu.” Sahutnya
seraya mempersilahkan aku duduk.
Aku pun duduk. “jadi..”
“Pena berharap kepada kamu tink.. kamu bisa menjadi teman baiknya,
”
“o.. begitu bu,, ya.. terimakasih..”
“ya. Saya juga ingin kamu faham dengannya.. setelah 2 minggu
kematian Ummi nya, ia ingin semangatnya masih utuh, bahkan bertambah..”
“jadi..” ujarku mengguyur kedua pipiku.
***
Aku melamun diatas rumput hijau berembun seperti biasanya, akupun
juga melihat gumpalan hitam awan mendung. Tak seperti biasanya, aku tidak
menjerit seperti orang gila, atau orang kehilangan akal atau apalah, aku hanya
bisa merenungkan nasib. Lalu kutatap jalan raya disamping taman yang kududuki.
Ada seorang perempuan dari belakang, ia mirip dengan Pena. Lalu aku
bangkit dari lamunanku dan menghampirinya.
“hai. Kau Pena.??” Tanyaku dibelakang tubuhnya yang sedang
berjalan.
“..” ia tak menjawab. Tapi aku yakin itu Pena. Aku pun berjalan disampingnya.
“maafkan aku..”jawabku. Aku mengeluarkan tissue yang ada disakuku.
Dan menarik satu lembar untuk kuberian kepadanya. “usaplah airmatamu.. aku akan
menemani sedihmu.” Ujarku seraya menawarkan tissue yang ada ditangan kananku.
Dan ia mengambilnya.
“thanks..” ujarnya. Melepas kacamata ovalnya dan mengusap air yang
semakin deras itu.
“ya.. misamisa.. kau tau..?? aku telah sekian lama mencari
sahabat ku.. tapi apa daya., aku sadar.. bahwa ia yang telah mati. Tak dapat
hidup kembali.. seperti Ummi mu.. maafkan aku..” ceritaku pada Pena.
“aku kangen sama Ummi..” katanya lirih.
“sabarlah.. aku berusaha merasakan apa yang kamu rasakan,..
sahabat..”
“siapa..??” tanyanya.
“ehmm.. maksudku.. maukah kamu jadi sahabat aku.?? Tapi..
mungkinkah kamu mau… entahlah.. lupakan sajalah..” jawabku.
“aku mau.. tapi..”
“tapi apa Pena..?”
“aku takut, kau akan kecewa denganku.. aku.. tidak mempunyai ibu..
tak seperti yang lainnya..”
“itu bukanlah masalah.. itu takdir.. sudahlah.. ikhlaskan lah Ummi
mu Pen,..”
“terimakasih sahabat..”
“iya.. misamisa..” sahutku bermaksna ‘sama-sama’.
“kau tau tink..?? akulah yang harusnya menawarimu menjadi
sahabatmu.. tapi aku takut kau akan marah..”
Deg. Aku merasa bersalah. Apakah aku yang memang egois..? tak pernah
melihat betapa baik hatinya. Selama ini, aku hanya menganggap dia penganggu.
Dan ternyata.. o Allah..terimakasih.. Kau beri aku teman baik seperti dia.
Sahabatku..
“Tinker..??” ujar Pena. Menggugahkan lamunanku.
“ya.?? Sorry.. maafkan aku Pen..”
“jujur.. aku telah memaafkan mu dari dulu..”
:’)
Percakapan indah kita sampai dipertigaan jalan. Aku dan Pena
berbeda jalur..
“Selamat Jalan Pena..!!” teriakku berjalan mundur.
Pena hanya menoleh. Dan tersenyum. J
Hati-hati dijalan.!
***
Mulai hari ini, tak ada lagi kata gila, galau, sedih, dkk. Karena
aku, telah mendapat sahabat baruku.. tapi, aku juga takkan pernah selamanya
melupakan sahabat lawasku.. aku rindu padamu, sahabat lawasku.. dan Pena..
sahabat baruku..
Aku memandang langit. Penuh dengan sejuta bintang. Tak ada mendung
sedikitpun. “diary biruku.. aku mempunyai sahabat baru.. dia adalah Pena, dan
aku tinta dari persahabatan kita..” ujarku dalam hati.
Tiba-tiba, kantuk menjemputku. Akupun bangkit dari jendela kamar
ku yang tembus ke langit dan menutupnya rapat-rapat dengan tirai biru
berlukiskan rintik hujan. Lalu aku beranjak ke ranjang tempatku melukis mimpi.
Selamat datang mimpi… semoga besok, adalah hari bahagia pertamaku,
menjalin persahabatan indah dengan “seorang pena”.
Have a nice dream.! Pena, sahabatku.!
***

0 comments :
Posting Komentar