Breaking News
Loading...
Kamis, 20 Maret 2014

an-Nasr..!! semoga di publish.!




yaAllah..
semoga di publish cerpen saya..
amin..



Seorang Pena
by: phy_pelukismimpi (xb)
 [..]
“Pena..!! siapa kau..??”  jerit ku seraya mendangak keatas langit. Langit yang dipenuhi dengan gumpalan hitam awan mendung. Hanya sedikit sinar kecil dibalik awan biru., ya.. matahari itu malu dengan ku. “heii..!! tunjukkan dirimu..!!!jangan hanya mengangguku..!!” jerit ku lagi. Ingin rasanya aku marah sekali dengan peristiwa tadi, kemarin, kemarin lusa, dan pekan lalu. Dia benar-benar membuat rona wajahku memerah.
Aku kembali menunduk. Melihat diriku yang lemah  ini, yang memang seharusnya di injak-injak oleh semua orang. Lalu, tak terasa air mata ku mengalir begitu saja. “aku bukan cengeng..” desah ku dalam hati. Mataku benar-benar ramah sekali.. membukakan pintu keluar untuk air-air kesedihan. Tapi.. argkhh….!!! Aku bosan menjadi diriku..!!!
Ragaku  masih duduk lemas di atas rumput hijau berembun. Rok abu-abuku penuh dengan lumpur-lumpur liar. Aku masih menangis. Terus dan terus. Sampai mata ku merah dan kantong mataku bengkak. Dan kuputuskan untuk kembali menelusuri jalan yang sangat ramai itu. Melangkahkan kaki menuju rumah tempatku berteduh dari segalanya.
***
Merenung di meja belajarku saat malam hari, adalah hal wajar ketika aku sedang mengalami masalah. Lalu kutumpahkan segala curahan hatiku kepada diary biru. “pena.. pena,, dan.. pena..” fikirku dalam hati. Diam sejenak. Ia seperti benda yang saat ini aku pegang. Pena.. ya..!! itu bolfoint..
Jikaseorang Pena telah membuat ku kesal, apa yang telah  ia lakukan pada ku. Aku akan membalas semua itu. Tapi, aku harus mempunyai rencana matang. Arkkhhh… pasti hasilnya gagal.
Andai, aku mempunyai seorang sahabat. Ya.. walaupun hanya satu seorang sahabat, aku akan menceritakan ini semua. “aku butuh sahabat..” batinku. Tapi siapa yang mau bersahabat dengan ku.? Mungkin, tak ada yang pernah memperhatikan ku lagi, setelah  sahabat lawas ku pergi dari dunia ini. Satu-satunya yang memperhatikan ku selain dia adalah… “apa..??!!! apa Pena kah?? Tidak.. tidak mungkin..” jeritku seperti orang stress ringan.
“Pena adalah satu-satunya teman baru yang suka bergaul dengan ku… tapi aku tak pernah merespon semua itu kepadanya..dan aku merasa dia telah menggangguku.. tapi bukankah dia murid baru, yang hanya ingin duduk disebelahku, dan memberikan senyum manisnya setiap hari… seperti sahabatku dulu…? o Allah.. aku merasa bersalah padanya.. maafkan aku…” kataku lirih.
Tak terasa, diary biruku basah akibat tangisan lirihku.
“betapa buruknya diriku.. hingga semua orang menjailiku.. mencibirku.. meng-asingkan diriku..dan aku baru menyadari, bahwa tak ada lagi yang bisa mewadahi curhatku..” kataku lagi.
Malam ini semakin larut, begitu juga dengan air mata ku semakin beku. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak dari hal ini, sampai pagi menyapaku.
Aku bimbang apa yang harus aku lakukan padanya. Semoga mimpi ini memberiku jawaban.  Aku terlelap dalam sunyinya malam.
***
Di dalam kelas.
Aku meng-aktrasikan bullpen mungilku. Aku masih binggung apa yang harus aku omong pada hari ini selain diam. Hhh… suasana kelas ramai seperti sarang lebah yang aku lempar pada saat sepulang sekolah. Tiba-tiba, aku berfikir mengapa Pena belum datang, padahal jarum panjang telah lurus keatas.
“ada apa dengan Pena. Aku takut sesuatu akan terjadi padanya.” fikirku dalam hati. Aku gelisah. Jarang aku mengkhawatirkan Pena.
Dan.. seseorang guru galak masuk keruang kelas ku, lalu semua siswanya terdiam. Dan aku berhenti mengaktrasikan bullpenku.
Wajah sangarnya tak dipungkiri lagi. Dia adalah satu-satunya guru paling garang disekolah ini. Aku mengeluarkan pe-er yang lusa lalu telah ku kerjakan.
Tiba-tiba, “dikdokdikdok..” seperti sepatu tak bertali menelusuri koridor dan menuju kekelas ini. Apa itu suara sepatu Pena.?
“tok-tok-tok” pintu musam itu bersuara memecahkan keheningan kelas saat “guru sangar” itu mengajar.
“masuk.” Kata beliau.
 Benar dugaanku.. itu adalah Pena. Ia berjalan menunduk sampai ia menemukan flatshoes ber-high tinggi. Lalu ia berhenti.
“jam berapa ini?”tanya beliau.
“..” Pena tak menjawab.
Spontan aku berdiri dan berkata “Maaf bu..” seisi kelas memperhatikan ku. Termasuk mata tajam sang guru. Lalu aku melanjutkan kata-kataku. “dari pada waktu terbuang sia-sia, saya akan mempertanggung jawabkan ini. Karena ini… adalah kesalahan ku…”
Beliau mengangguk, memberi isyarat agar jam istirahat aku pergi ke ruang bimbingan konseling, dan mempersilahkan Pena duduk. Pena berjalan lemas ke bangkunya. Lalu ia duduk disebelahku.
Ia membenahi kacamata ovalnya. Dan menatapku dengan penuh terimakasih. Ada rona kekhawatiran dan kebahagiaan diwajahnya kepadaku.
“Assalamu’alaikum.. terimakasih tink.. aku tak tau harus bagaimana.. tapi.. ah sudahlah.. terimakasih..” ujarnya padaku.
“Wa’alaikumussalam. H’em.” Jawabku singkat.
Ruangan kelas kembali sunyi. Sesunyi aku dan pena. Mulut kita serasa ter-solatip
***
Jam istirahat.
Aku menelusuri koridor sunyi dan sepi, menuju ke ruang BK. Setelah aku mampir kekantin. Aku tak rela menahan laparnya perutku. Hehe..
“huhh..!! mengapa aku harus mengatakan itu tadi.. aku bukan siapa-siapa nya dia..” gumanku sambil melangkahkan kedua kakiku secara bergantian.
Tepat aku berada didepan pintu ruang bimbingan dan konseling itu, sekilas aku mendengar percakapan kecil antara guru BK dan seorang siswi. Terpaksalah aku antri dan menyelendenkan punggungku disamping pintu ruang BK.
Setelah sekian lama aku mengantri, siswi yang ada didalam pun keluar. Tanpa sadar, ia melihatku berjalan dengan kepala menunduk. Aku tak tau siapa itu. Aku masuk dan belum sampai aku duduk, guru BK itu bertanya kepadaku.
“mau apa anda kesini? Pena sudah menjelaskan masalahnya pada saya dan anda juga” ujarnya dengan sindiran.
“be-tul yang ibu kata.? Pena sudah duluan kesini.?lalu apa yang diceritakan Pena tentang saya? Apa saya salah padanya.?” tanyaku terbata-bata.
“ya. Ia tadi terlambat sekolah bukan..? duduk dulu.” Sahutnya seraya mempersilahkan aku duduk.
Aku pun duduk. “jadi..”
“Pena berharap kepada kamu tink.. kamu bisa menjadi teman baiknya, ”
“o.. begitu bu,, ya.. terimakasih..”
“ya. Saya juga ingin kamu faham dengannya.. setelah 2 minggu kematian Ummi nya, ia ingin semangatnya masih utuh, bahkan bertambah..”
“jadi..” ujarku mengguyur kedua pipiku.
***
Aku melamun diatas rumput hijau berembun seperti biasanya, akupun juga melihat gumpalan hitam awan mendung. Tak seperti biasanya, aku tidak menjerit seperti orang gila, atau orang kehilangan akal atau apalah, aku hanya bisa merenungkan nasib. Lalu kutatap jalan raya disamping taman yang kududuki.
Ada seorang perempuan dari belakang, ia mirip dengan Pena. Lalu aku bangkit dari lamunanku dan menghampirinya.
“hai. Kau Pena.??” Tanyaku dibelakang tubuhnya yang sedang berjalan.
“..” ia tak menjawab. Tapi aku yakin itu Pena. Aku pun berjalan disampingnya.
“maafkan aku..”jawabku. Aku mengeluarkan tissue yang ada disakuku. Dan menarik satu lembar untuk kuberian kepadanya. “usaplah airmatamu.. aku akan menemani sedihmu.” Ujarku seraya menawarkan tissue yang ada ditangan kananku. Dan ia mengambilnya.
“thanks..” ujarnya. Melepas kacamata ovalnya dan mengusap air yang semakin deras itu.
“ya.. misamisa.. kau tau..?? aku telah sekian lama mencari sahabat ku.. tapi apa daya., aku sadar.. bahwa ia yang telah mati. Tak dapat hidup kembali.. seperti Ummi mu.. maafkan aku..” ceritaku pada Pena.
“aku kangen sama Ummi..” katanya lirih.
“sabarlah.. aku berusaha merasakan apa yang kamu rasakan,.. sahabat..”
“siapa..??” tanyanya.
“ehmm.. maksudku.. maukah kamu jadi sahabat aku.?? Tapi.. mungkinkah kamu mau… entahlah.. lupakan sajalah..” jawabku.
“aku mau.. tapi..”
“tapi apa Pena..?”
“aku takut, kau akan kecewa denganku.. aku.. tidak mempunyai ibu.. tak seperti yang lainnya..”
“itu bukanlah masalah.. itu takdir.. sudahlah.. ikhlaskan lah Ummi mu Pen,..”
“terimakasih sahabat..”
“iya.. misamisa..” sahutku bermaksna ‘sama-sama’.
“kau tau tink..?? akulah yang harusnya menawarimu menjadi sahabatmu.. tapi aku takut kau akan marah..”
Deg. Aku merasa bersalah. Apakah aku yang memang egois..? tak pernah melihat betapa baik hatinya. Selama ini, aku hanya menganggap dia penganggu. Dan ternyata.. o Allah..terimakasih.. Kau beri aku teman baik seperti dia. Sahabatku..
“Tinker..??” ujar Pena. Menggugahkan lamunanku.
“ya.?? Sorry.. maafkan aku Pen..”
“jujur.. aku telah memaafkan mu dari dulu..”
:’)
Percakapan indah kita sampai dipertigaan jalan. Aku dan Pena berbeda jalur..
“Selamat Jalan Pena..!!” teriakku berjalan mundur.
Pena hanya menoleh. Dan tersenyum. J
Hati-hati dijalan.!
***
Mulai hari ini, tak ada lagi kata gila, galau, sedih, dkk. Karena aku, telah mendapat sahabat baruku.. tapi, aku juga takkan pernah selamanya melupakan sahabat lawasku.. aku rindu padamu, sahabat lawasku.. dan Pena.. sahabat baruku..
Aku memandang langit. Penuh dengan sejuta bintang. Tak ada mendung sedikitpun. “diary biruku.. aku mempunyai sahabat baru.. dia adalah Pena, dan aku tinta dari persahabatan kita..” ujarku dalam hati.
Tiba-tiba, kantuk menjemputku. Akupun bangkit dari jendela kamar ku yang tembus ke langit dan menutupnya rapat-rapat dengan tirai biru berlukiskan rintik hujan. Lalu aku beranjak ke ranjang tempatku melukis mimpi.
Selamat datang mimpi… semoga besok, adalah hari bahagia pertamaku, menjalin persahabatan indah dengan “seorang pena”.
Have a nice dream.! Pena, sahabatku.!
***

0 comments :

Posting Komentar

 
Toggle Footer